Dengan maraknya informasi tentang terorisme sekarang ini, ternyata ada juga pihak-pihak yang memanfaatkannya. Moment tentang terorisme juga dimanfaatkan oleh pihak yang tidak senang dengan LDII untuk menyudutkan LDII. Mereka memberikan informasi bahwa pengajian LDII mengajarkan terorisme. Dalam kesempatan ini kami meluruskan informasi yang tidak benar tersebut. Fakta yang sebenarnya adalah “LDII Tidak Mengajarkan Terorisme“. Jadi tuduhan bahwa LDII mengajarkan teroris itu hanya fitnah dan merupakan tuduhan yang tidak mendasar. LDII itba’ terhadap fatwa MUI bhw terorisme bukan jihad, sebab terorisme membuat keonaran, merugikan siapapun. Bahkan LDII anti terorisme. Terorisme bertentangan dengan ajaran islam. LDII komit terhadap mewujudkan kebersamaan, persatuan, keadilan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. LDII bukan teroris, ajaran yg diajarkan adalah Qur’an dan Hadits. Sebagai Ormas Islam LDII menganggap Pancasila , UUD 45 dan NKRI adalah Final untuk membawa bangsa dan Indonesia mewujudkan Baldatun Toyyibatun Warobbun Gofur. Tuduhan terorisme terhadap LDII sangat tidak berdasar dan ini jelas bahwa ada pihak-pihak tertentu yang ingin memecah belah umat Islam. Dan memperkeruh suasana dan semangat amaliah ibadah ummat Islam. Apalagi di bulan ramadhan seyogyanya kita ber-FASTABIQUL KHOIROT. Untuk itu kami himbau kepada sesama umat Islam khususnya kepada warga LDII untuk tetap sabar dan waspada serta mengedepankan semangat ukhuwah islamiyah dan selalu ber tabayyun dalam menyelesaikan persoalan bersama (more…)

Image Ambil Al-Quran yang sehari-hari dipakai mengaji. Lalu buka lembar demi lembar. Selamat, bagi yang sudah lancar membaca Al-Quran alias ”Qori” dan sudah khatam bacaan-makna-keterangan. Lalu bagaimana dengan yang makna-keterangan belum khatam, bacaan belum tartil, apalagi yang belum bisa membaca?

Padahal selama hidup sejak aqil baligh, atau sejak insof, sudah ribuan jam waktu dihabiskan untuk membaca (urut abjad): abstracts, artikel, cerbung, cergam, cerpen, diktat, e-book, handbook, jurnal, kamus, komik, koran, majalah, novel, tabloid, textbook, thesaurus dll. Semua orang tahu dalil ini: tolabul ‘ilmi faridlotun ‘alaa kulli muslimin ~ mencari ilmu itu wajib bagi orang muslim. Tetapi ilmu apakah yang wajib dicari?

Ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa ilmu yang wajib dicari itu ada tiga, yaitu Al-Quran, Al-Hadits dan Faroidl atau ilmu waris. Selain itu hanyalah keutamaan saja. Belasan tahun sumberdaya enerji, waktu, tenaga, pikiran, dan dana dihabiskan untuk mencari sekian banyak ilmu dunia yang menghasilkan setumpuk ijazah, sementara 3 ilmu yang wajib dicari dan dikuasai yang passsti berakibat terhadap konsekwensi sorga-neraka seseorang, justru diabaikan. Ironis? Nggak lah. Sangka baik kepada Allah ~ husnudzonbillah saja, itu semua terjadi karena kekurang-fahaman atas hadits tadi, bukan karena selainnya. Yang terpenting adalah mengambil langkah-langkah korektif secepatnya.

Kendala Qori
Firman Allah: warottilil qur’aana tartiila ~ dan bacalah Al-Quran dengan tartil, tertib. Suara pun harus terdengar tetapi tidak asbun ~ asal bunyi melainkan harus tepat sesuai makhraj (bunyi keluarnya suara) dari huruf hijaiyyah: alif ba` ta` tsa` dst sampai ya`.
Bagi beberapa etnis orang A’jam (non-Arab), makhroj huruf hijaiyyah saja sudah satu persoalan tersendiri.

Untuk sebagian orang Sunda totok, misalnya, Nauu’dzubillah sulitnya membunyikan fa` yang kerapkali tisoledat ~ tergelincir menjadi pa`. Itu karena rumpun suku Kabayan ini tidak mengenal vocabulary “f” tapi “p”: peuyeum, peureum, peureus,peupeus, peuheur, peungkeur, peureudeuy. So, jangan heran kalau ‘fa-aina’ terdengar jadi ‘pa-aina’, atau bahkan ‘pa-aena’.
Untuk sebagian orang Jawa totok, misalnya lagi, Masya Allah sulitnya membunyikan huruf ‘ain. Maunya ‘ngain terus. Jangan heran kalau sholawat “wa ‘ala ali ibrohim” terdengar ”wa ngala ngali ngibrohim”.

Itu baru huruf hijaiyyah yang adalah ilmu 1 huruf. Ada lagi tajwid atau ilmu 2 huruf, perihal pertemuan 1 huruf dengan 1 huruf lainnya: izh-haar, idghaam, iqlaab, ikhfaa`, qalqalah, madd dan waqaf. Di Indonesia, ada tambahan kendala dimana didalam konvensi literasi huruf hijaiyyah menjadi bahasa Indonesia, bukannya ditulis kho` tapi kha`, `ro tapi `ra, shod tapi shad, dst, dst. Semakin membuat lieur saja, bukan?

Perjalanan Panjang Talaqqi
Belajar membaca Al-Quran adalah perjalanan panjang. Ada yang masih ingat masa kecil dulu ketika masih di level ‘alif-ba-ta’? Saat itu belum ada metoda Iqra temuan KH As’ad Humam. Sepertinya lahiriahnya khusyuk, padahal batiniahnya ketakutan dengan sebatang rotan di tangan ustadz yang siaga-satu siap melayang jika sampai ulangan ke 3 bacaan masih salah.
Belajar sendiri dari kaset atau MP3 player? Tidak bisa. Seperti halnya Fahri didalam “Ayat-Ayat Cinta”. Udara Kairo sepanas apapun tetap ditembusnya demi talaqqi (murid berhadapan langsung) dengan guru bacaan Qiro’ah Sab’ah.

Mengapa? Sebab tanpa talaqqi mana mungkin tahu imalah dimana ditulis “majrooha”, tetapi jika dibaca persis seperti itu, sudah pasti salah. Mana mungkin tahu sakat yang ibarat tombol pause tape atau MP3 player kepencet. Mana mungkin tahu ismam: “laa ta-manna” yang salah-benarnya hanya bisa diketahui dengan mata telanjang, bukan dengan kuping, dst.
Al-Quran bukanlah buku biasa yang siapa saja bisa membacanya tanpa guru. Jibril tidak mengajarkan hijaiyyah dan tajwid kepada Muhammad, kemudian membiarkan Muhammad membaca Al-Quran sendiri.

Al-Quran adalah firman Alloh yang disimpan di Lauh Mahfudz, kemudian disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad kata demi kata, ayat demi ayat. Dimulai dari ’iqro bismirobbikalladzii kholaq’, terus sampai 6.666 ayat, ditutup ‘minal jinnati wannaas’.
Belajar Al Quran haruslah sabar, konsisten dan persisten alias ngotot dalam pengertian positif. Tuh, Rosul saja perlu 23 tahun untuk talaqqi kepada Malaikat. Apalagi kita yang orang A’jam manusia biasa talaqqi kepada guru yang orang A’jam biasa pula.

Bacaan Murottal
Lalu bagaimana dengan kaset dan MP3? Silahkan, tetapi setelah melewati tahap talaqqi. Itu justru sangat bermanfaat untuk mengasah pendengaran, menirukan bacaan dengan makhroj-tajwid yang dipelajari ketika talaqqi, dan mempelajari langgam atau lagu.
Ada bacaan qori Syeikh Abdullah Al Matrud, Abdurrahman As Sudais, Ali Al Khudzaifi, Hani Ar Rifai, Mahmud Al Husori, Misyari Rasyid Al Hafasi, Muhammad Ayub, Sa’ad Al Ghomidi, Su’ud Asy Syuraim. Di Indonesia, ada bacaan qoriah Dra. Hj. Maria Ulfah M.A. http://www.mariaulfahm.com, dan qori H. Muammar Z.A yang ternyata cukup populer di http://www.youtube.com.
Sebagai Imam Masjidil Haram, As Sudais dengan suara tenor dan Asy Syuraim dengan suara bariton adalah yang paling populer. Tetapi jika diperhatikan, keduanya memendekkan mad jaiz dari 5 menjadi 2 harakat. Setelah minta pendapat KH Kasmudi Asshidqy yang juga penulis di majalah Nuansa ini, bacaan qori Syeikh Al Ghomidi yang paling pas dengan bacaan hafs di Indonesia.

Alat Bantu: 3-Qori SSG
Dulu, bacaan Al Quran disimpan didalam kaset. Masih terkenang ribet kemana-mana membawa sekotak puluhan kaset. Sekarang dalam format MP3, 30 Juz bisa disimpan dalam 1 keping CD. Kelemahan belajar qiroat dari kaset dan MP3 player, antara lain karena perlu seringnya menekan tombol ”REW” dan ”FF”. Lebih memakan waktu untuk memundur-majukan ayat daripada konsentrasi terhadap belajar qiroat.

Bersyukurlah, saat ini ada Pena Qori, alat digital made in swasta dengan Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) yang di launching di MTQ Nasional ke XXII 17 Juni 2008 lalu di Serang, Banten. Dalam suatu demo, mata Pena Qori diarahkan ke ayat-ayat di surat At-Takwir maju-mundur secara acak. Luar bisa kecepatan dan ketepatannya! Hanya dengan menempelkan pena 90 derajat sejarak 0,6 mm dari mushaf ayat 26, terdengarlah suara “Fa aina tadzhabuun” dan terjemahannya “Maka kemanakah kamu akan pergi?”

Resensi banyak media terhadap pena qori digital ini bisa dilihat di http://www.google.co.id dengan keyword “Pena Digital Fasih Membaca Alquran”. Di kampus IIQ, pena qori digital dijual dengan harga Rp. 1,27 juta, sedangkan di MTQ XXII pena qori dijual dengan harga Rp. 850 ribu. Sampai saat ini baru ada pena qori digital berisikan suara qoriah Maria Ulfah. Sangat praktis, apalagi dilengkapi earphone. Penulis saat ini sedang nego untuk membuat pena digital berisikan suara 3-qori sekaligus Sudais-Syuraim-Ghomidi. Pihak pabrikan setuju. Tetapi karena memakan waktu dan biaya, maka tentu saja ada minimum economics of scale, ada minimum pesanan, Yang bener aja ah, mosok minta dibuatkan pena digital berisi database 19.998 ayat dari 3 orang qori Makkah-Madinah, trus cuma pesen 1 biji! Penulis mengundang para pembaca yang budiman

2 Opsi: Mau Disayang? tau Dilaknat Al Quran?
Fahri bak pahlawan. Dia tidak hidup dengan Siti Nurbaya, zaman sabak. Dia hidup dengan Maria-Aisyah, zaman internet. Dia memberikan pelajaran kepada kita betapa talaqqi tidak bisa tergantikan oleh metoda apapun, tidak dengan kaset, tidak dengan MP3. Dan demi talaqqi, dia terkena meningitis.

Puasa di ambang pintu. Marhaban! Inilah waktu yang tepat untuk talaqqi. Inilah waktu yang pas untuk solat hifdzi. Lalu kebut jadi Qori dengan menggunakan alat bantu mutakhir yang boleh jadi merupakan ‘barang hilangnya’ orang mumin: al hikmatu doollatul mu-miniin.
Sekian tahun menghabiskan waktu, tenaga, pikiran dan dana untuk membaca buku mencari ilmu menuai ijazah, kini tiba saatnya kembali khusyu’ membaca Al-Quran.

Alloohummar hamnaa bil qur’aan

~ Ya Allah, sayangilah kami dengan Al-Quran
Waj’alhu lanaa imaaman wa hudan wa nuuron wa rohmah
~ dan jadikanlah Al Qur’an bagi kami menjadi imam, petunjuk, cahaya, dan rahmat
Alloohumma dzakkirnaa minhu maa nasiinaa
~ Ya Allah, ingatkanlah kami dengan Al Qur’an atas segala apa yang kami lupa
Wa ‘allimnaa minhu maa jahilnaa
~ dan ajarilah dengan Al Quran atas segala apa yang kami bodoh

Rubba qoori-in lil Quraan wal Quraanu yal’anhu ~ Adakalanya orang membaca Al-Quran dan Al-Quran melaknatinya, demikian riwayat sebuah hadits didalam tafsir Haqi dari Aisyah. Jadi kalau yang membaca Al-Quran saja masih diancaman dilaknat Al-Quran, lalu bagaimana dengan yang tidak? Apalagi yang buta baca? Addduhhh! Fa aina tadzhabuun?

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ * سورة البقرة 43

Dan dirikanlah sholat, dan bayarlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk

Keterangan:

Ayat ini menjelaskan tentang kewajiban sholat dan zakat, serta sholat berjamaah secara umum. Penjelasan mengenai waktu dan cara sholat, siapa saja yang harus mengerjakan sholat, jenis-jenis zakat, nisob dan jumlah zakat, terdapat pada ayat-ayat Al-Qur’an yang lain dan dijelaskan secara lebih gamblang pada ucapan dan perbuatan Nabi yang terdapat dalam Al-Hadits


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى إِنِّي فَرَضْتُ عَلَى أُمَّتِكَ خَمْسَ صَلَوَاتٍ وَعَهِدْتُ عِنْدِي عَهْدًا أَنَّهُ مَنْ جَاءَ يُحَافِظُ عَلَيْهِنَّ لِوَقْتِهِنَّ أَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهِنَّ فَلاَ عَهْدَ لَهُ عِنْدِي * رواه أبو داود كتاب الصلاة

Bersabda Rosululloh SAW, berfirman siapa Alloh Yang Maha Luhur: “Sesungguhnya mewajibkan aku atas umatmu Muhammad 5 (waktu) sholat dan menjanjikan aku di sisiku dengan janji, bahwasanya orang yang datang dengan menjaga atas 5 (waktu sholat) pada waktunya, akan kumasukkan dia ke surga. Dan barang siapa yang tidak menjaga atas 5 sholat, maka tidak ada janji baginya di sisiku.”

Keterangan:

Hadits ini menerangkan tentang kewajiban sholat. Barang siapa (siapa saja) yang menjaga sholat 5 waktu, maka pada hari kiamat akan dijanjikan surga oleh Alloh. Dan barang siapa yang tidak menjaga pada sholat 5 waktu, Alloh tidak bisa menjanjikan surga untuknya. Karena di akhirat nanti hanya ada dua tempat, yaitu surga atau neraka, akan kemanakah orang yang tidak dijanjikan surga oleh Alloh?


عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلاَةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا * رواه أبو داود كتاب الصلاة

Dari Jaddid, berkata dia: Bersabda Nabi SAW: “Perintahlah kalian pada anak kecil dengan sholat ketika telah berumur 7 tahun. Dan ketika telah berumur 10 tahun maka memukullah pada anak karena meninggalkan sholat”

Keterangan:

Nabi memerintahkan kepada umat muslim agar membiasakan anak mereka untuk mengerjakan sholat 5 waktu ketika berumur 7 tahun. Dan jika setelah sampai umur 10 tahun anak tersebut belum mau juga untuk mengerjakan sholat 5 waktu, maka orang tua agar mengingatkan anak dengan cara memberi pukulan yang mendidik, bukan dengan pukulan-pukulan keras yang malah membuat anak trauma.

Dari hadits ini dapat kita lihat bagaimana wajibnya mengerjakan sholat 5 waktu. Bahkan anak umur 10 tahun (yang biasanya belum baligh) sudah diperintahkan untuk dipukul jika meninggalkan sholat.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) bersama sembilan organisasi masyarakat (Baznas, Lazis DDII, Lazis Muhamdiyah, Lazis RZI, Aksi Cepat Tanggap, Yayasan Dompet Dhuafa, Laz Al Azhar, Lazis BMT, dan Lazis PKPU) mendapat kepercayaan menyalurkan zakat koorporasi oleh Bank Mega Syariah (BMS)

Kemarin, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII, Prof. Dr. Ir. KH. Abdullah Syam, menyerahkan secara simbolis zakat tersebut kepada Ketua DPD LDII Kota Bogor Radjab Tampubolon, dan Ketua DPD LDII Kab. Bogor H. Bambang Wahyudi di Masjid Nurul Iman, Budi Agung Kecamatan Tanah sareal.

DPP LDII dipercaya untuk menyalurkan zakat itu kepada mustahiq sebesar Rp. 350 juta dari dana zakat kooporasi BMS tersebut. Kemudian DPP LDII menyalurkan sebagian dana zakat itu secara simbolis kepada sejumlah mustahiq zakat di Bogor melalui Dewan Pimpinan Daerah LDII Kota dan Kabupaten Bogor.

Ketua Umum DPP LDII Prof. KH Abdullah Syam mengatakan zakat yang disalurkan melalui DPD LDII Kota Bogor masing-masing sebesar Rp.25 Juta, selanjutnya dana itu akan dibagikan kepada 500 keluarga dhuafa dengan besaran pembagian Rp. 100 ribu per keluarga.

Selain Bogor, DPP LDII juga menyarlurkan zakat di beberapa wilayah lainnya seperti Depok, Bekasi, DKI Jakarta dan Tangerang. Ia juga menghimbau agar dana tersebut disalurkan dengan benar dan dapat di pertanggungjawabkan.

“Harus ada laporannya ke DPP LDII tentang siapa saja yang menerima. LDII harus mampu membuktikan dirinya sebagai ormas keagamaan yang menjunjung tinggi sifat jujur amanah rukun kompak dan mampu bekerjasama yang baik melalui penyaluran zakat koorperasi”, ujarnya.

Ia berharap BMS akan terus memberikan kepercayaan kepada LDII untuk menyalurkan dana zakat koorporasinya dan jumlah dana yang disalurkan dapat terus berkembang hingga memberikan manfaat nyata kepada keluarga dhuafa yang menerima bantuan.

Sementara Ketua DPD LDII Kota Bogor Radjab Tambulon berjanji akan menjalankan amanah tersebut dengan baik. Kami akan data dan akan kami langsung berikan dengan cara door to door, ‘ ujarnya.
Sholeh Iskandar-Bogor Metropolis 17 September 2006/ 17 Ramadhan 1429 H. hal . 10

JAKARTA - Ketua DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Prasetyo Sunaryo mengakui pihaknya seringkali mendapat stigma sebagai Islam sesat. Oleh karena itu, untuk menepis anggapan sebagai Islam sesat pihaknya berupaya melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

“Upaya kita untuk hal itu melalui penerbitan (media massa red) agar supaya ada perimbangan,”kata Prasetyo di Jakarta, Sabtu, (21/6/2008).

Selain itu, LDII juga kerap melakukan silaturahmi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Kita juga bersilaturahmi dengan sesama ormas Islam selain dengan MUI,” tegasnya.

Sementara itu, menyinggung saluran politik bagi LDII dalam pemilu 2009, Prasetyo menjelaskan pihaknya membebaskan kader LDII untuk memilih parpol yang dianggap sesuai dengan hati nuraninya. “Itu telah sesuai dengan keputusan Munas yang kita lakukan,”pungkasnya. (Iman Rosidi/Trijaya/uky)

(http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/06/21/1/120880)

Nun jauh di sebuah desa terpencil hiduplah sekelompok masyarakat yang mempunyai mata pencaharian bertani dan berdagang. Ketika itu hari pasar sedang berlangsung, desa tersebut ramai dikunjungi penduduk desa itu maupun dari desa lainnya. Diantara keramaian pasar ada tiga pemuda yang sedang menjajakan dagangannya, kayu bakar yang mereka bawa dari hutan. Mereka adalah Rohmat, Rosyid dan Romli.
Kegiatan sehari-hari ketiga pemuda itu mencari kayu-kayu bakar di hutan yang kemudian mereka jual ke pasar. Pekerjaan ini terus mereka lakukan tanpa pernah melirik pada perkejaan lain. Ketiga pemuda sebaya itu sangat akrab satu sama lain. Walaupun demikian ketiganya mempunyai perangai yang berbeda. Rohmat adalah pemuda yang sabar, tekun dalam beribadah dan suka bekerja keras. Setelah sholat shubuh di saat matahari belum terbit. Ia sudah pergi menjemput kedua temannya yang dijumpainya masih tertidur lelap untuk pergi ke hutan mencari kayu bakar. Rosyid kadang menjalankan sholat subuh kadang tidak. Romli si pemalas susah bangun pagi, kadang ia ditinggal saja oleh kedua temannya, karena katanya “Aku masih ngantuk, kalian duluan saja nanti aku menyusul”.

Rohmat memperlihatkan rasa kasih sayang pada semua orang, ia sangat menyayangi saudara dan kedua orang tuannya. Ia juga menyayangi orang-orang di sekelilingnya. Ia akan segera membantu orang-orang yang perlu bantuannya. Temannya, Rosyid sikapnya biasa-biasa saja, ia tidak terlalu antusias dengan lingkungannya. Jika diajak oleh Rohmat untuk membantu masyarakat yang meminta bantuan, barulah ia pergi untuk membantu. Tapi Romli pemuda yang cuek, ia merasa tidak harus banyak membantu orang lain, karena menurutnya ia adalah orang miskin yang perlu bantuan orang lain juga. Terhadap keluarganya pun ia tidak punya perhatian. Ia lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri. Begitulah ketiga sahabat itu memang berbeda, walaupun begitu tetap saja mereka selalu bersama.

Sampai suatu ketika mereka sepakat untuk pergi ke hutan sebelah Barat, dengan harapan bisa mendapatkan kayu-kayu bakar yang lebih baik kualitasnya dan lebih banyak dari yang biasa mereka dapatkan. Seperti biasa setelah sholat subuh hari masih gelap Rohmat menjemput kedua temannya. Kemudian ketiga pemuda itu berangkat menuju hutan di sebelah barat. Menjelang siang hari sampailah mereka di suatu tempat yang banyak kayu-kayu bakarnya. Mereka mulai mengumpulkan kayu bakar dan mengikatnya. Ketika mereka sedang asyik mengumpulkan kayu bakar tiba-tiba hujan turun sangat deras, disertai dengan guntur dan petir saling bersahutan. Ketika pemuda itu sangat bingung dan takut, mereka berlarian mencari tempat berteduh.

“Hai lihat! Ada goa! Ayo kita berteduh di sana!” teriak Rohmat pada kedua temannya. Tak lama kemudian ketiga pemuda itu sudah berada di dalam gua yang sangat gelap. Mereka tidak bisa melihat apapun di sekelilingnya, seakan-akan mata mereka buta karena sangat gelapnya gua itu.
“Rohmat! Kamu di mana?” teriak Romli.
“Aku di sini! Kamu di mana? Mana Rosyid?” Tanya Rohmat.
“Aku di sini bersama Romli” kata Rosyid.
“Kita jangan berpencar!” pinta Rohmat.
“Iya! Kita harus tetap bersama” kata keduanya. Mereka berjalan perlahan-lahan, tiba-tiba mereka menginjak benda–benda halus, licin seperti kerikil.
“Hai! Kakiku menginjak sesuatu” kata salah satu diantara mereka.
“Aku juga. Benda apa ini?” sahut yang lain.
“Seperti batu kerikil tapi terasa lebih halus” kata yang lain lagi. Bersamaan dengan itu mereka dikejutkan oleh suara yang menggema, sehingga terdengar jelas keseluruh ruangan goa.
“Siapa yang mengambil benda itu, akan menyesal”.
“Siapa yang tidak mengambil juga akan menyesal”. Dengan penuh konsentrasi mereka mendengarkan suara gaib tersebut. Berulang-ulang suara itu terdengar dan akhirnya lama kelamaan menghilang.
Rohmat, Rosyid dan Romli mengernyitkan dahi memikirkan apa arti suara gaib itu. “Apakah yang akan diambil? Ada apakah di dalam gua ini?” begitu pikir mereka. Tetapi yang mereka rasakan hanyalah kerikil-kerikil kecil yang mereka injak.

Rohmat berkata dalam hati ”Kalau aku ambil, aku akan menyesal, kalau tidak aku juga menyesal.. Ah.. ambil saja yang banyak”. Rohmat memenuhi semua kantong baju dan celananya dengan benda itu.
Sementara Rosyid berpikir, “Kalau aku ambil aku akan menyesal, kalau tidak, aku juga akan menyesal… Hmm aku akan ambil segenggam sajalah”.
Sedangkan Romli berpendapat lain “Ambil akan menyesal, tidak ambil juga akan menyesal, sama-sama menyesal, lebih baik aku tidak ambil saja”. Ketiga pemuda itu diam membisu, mereka sangat ketakutan.
“Romli! Rosyid! Kenapa tiba-tiba aku menjadi takut?” kata Rohmat.
“Aku juga!” kata keduanya serempak.
“Bagaimana kalau kita lari keluar!” ajak Rohmat.
“Aku setuju. Lebih baik kehujanan daripada kita mati ketakutan di dalam goa!” kata Rosyid.
“Tunggu apa lagi! Ayo kita lari sekarang!..” kata Romli.

Ketiga pemuda itu berlari keluar dari goa. Tanpa terasa mereka berlari terus, menjauh dari goa. Dengan nafas terengah-engah, mereka berhenti dan tanpa disadari hujan pun sebenarnya telah reda. Mereka pun teringat pada benda-benda yang mereka ambil dari dalam goa. Mereka ingin melihat benda apa sebenarnya yang telah mereka ambil. Betapa terperanjat mereka demi melihat yang mereka ambil dari dalam goa, ternyata butiran-butiran berlian!

“MasyaAllah.. Ini berlian!” teriak mereka. Rohmat yang seluruh kantong baju dan celananya penuh dengan berlian merasa menyesal, “Waduuuh.! kalau saja aku tahu ini berlian! Aku akan ambil yang lebih banyak lagi. Bila perlu aku buka bajuku untuk mengantongi berlian ini sebanyak-banyaknya!”. Rosyid juga sangat menyesal karena hanya mengambil segenggam. Romli tubuhnya lemas demi melihat kedua temannya memeiliki berlian sedangkan dia tidak memiliki apa-apa, ”Oooooh..! kenapa aku tadi tidak mau ambil barang sedikit pun…!”. Akhirnya Romli pingsan dengan sejuta penyesalan dalam hatinya.

Setelah Romli mulai siuman, ketiganya berunding dan sepakat untuk kembali ke tempat goa itu berada. Romli mengosongkan isi tasnya, diikuti oleh kedua temannya, dengan harapan jika sampai di dalam goa nanti mereka akan mengambil berlian sebanyak-banyaknya. Tapi setelah sampai di mulut goa, mereka sangat terkejut karena mulut goa sudah tertutup oleh sebuah batu besar. Mereka berusaha untuk membukanya, tetapi sia-sia karena goa sudah tertutup rapat dan tidak dapat dibuka lagi. Akhirnya mereka pulang dengan keadaan menyesal karena tidak memperoleh berlian yang lebih banyak lagi.

Demikian itulah gambaran pengamalan manusia di dunia dan buah dari pengamalan itu yang kelak akan diperoleh di akherat. Berlian itu menggambarkan amalan-amalan baik. Dimana semua manusia pada hari pembalasan akan menyesal demi melihat pahala yang diberikan oleh Allah begitu banyak. Yang beramal banyak akan menyesal, kenapa tidak beramal lebih banyak lagi. Yang beramal sedikit juga menyesal kenapa hanya beramal sedikit. Apalagi yang tidak beramal, akan menjadi penyesalan yang tiada habisnya. Goa menggambarkan dunia. Dimana belum bisa dibedakan antara orang yang beramal banyak, sedikit maupun yang tidak beramal, sebab balasannya belum kelihatan. Sedangkan goa yang sudah tetutup adalah gambaran dari kematian. Jika kematian sudah tiba, penyesalan datang. Namun penyesalan tinggal penyesalan, yang sudah mati tidak akan bisa kembali ke dunia lagi.

Rasulullah SAW telah bersabda: “Setiap orang yang telah mati pasti akan menyesal. Sahabat bertanya, “Mengapa dia menyesal wahai Rasulallah?” Rasulullah menjawab, “Jika dia orang yang beramal baik, akan menyesal mengapa tidak menambah amal kebaikannya (sewaktu hidup di dunia). Jika dia orang yang beramal jelek, akan menyesal mengapa tidak bertaubat dan memperbaiki amal jeleknya (sewaktu hidup di dunia). HR. Tirmidzi dan Baihaqi.

Selagi Allah masih memberikan umur kepada kita, marilah kita penuhi dengan amalan-amalan yang baik. Jangan sampai menjadi golongan orang-orang yang menyesal di kemudian hari/***

 
[ Ust.H. Dave Ariant Yusuf ]

 

Di sebuah wilayah kerajaan nun jauh di sana. Hiduplah dua orang yang saling bersahabat sejak lama. Mereka adalah Abdullah dan Abdurrahman. Abdullah seorang petani yang telah terbiasa bekerja keras. Sedangkan Abdurrahman seorang pedagang yang rajin. Jika Abdullah sedang dalam kesulitan, Abdurrahman selalu membantunya. Begitupula sebaliknya, jika Abdurrahman sedang mendapat masalah, Abdullah pasti akan membantu. Kedua sahabat itu sangat rukun.

Abdullah mempunyai seorang anak perempuan bernama Siti. Anak perempuannya itu senang membantu pekerjaan sang ayah. Selain itu ia juga rajin dan taat beribadah. Sedangkan Abdurrahman memiliki anak laki-laki bernama Naufal, yang juga rajin membantu ayahnya berdagang. Sebagai sahabat karib, keduanya seringkali berkunjung satu sama lain dengan mengajak anak-anak mereka.
Pada suatu hari Abdullah berkunjung ke rumah Abdurrahman. Ia berniat ingin memperluas lahan pertaniannya. Disampaikanlah niat itu kepada sahabatnya. “Abdurrahman sahabatku.. Aku baru saja selesai panen dan Alhamdulillah aku mendapat keuntungan yang sangat besar dari hasil panenku. Sekarang aku berniat untuk menambah lagi lahan pertanianku. Apakah kau punya pandangan lahan yang dijual di daerah sekitar sini?”
Abdurrahman diam sejenak. Ia berpikir.. “Hmm.. Abdullah adalah sahabatku, ini adalah kesempatan untuk membantunya”
“Abdullah.. Bagaimana jika lahanku saja.. Kebetulan aku ada sedikit lahan peninggalan orang tua. Lagipula lahan itu tidak ada yang mengelola karena aku sibuk berdagang. Kau bisa membelinya dengan harga yang pantas”.
“Ohya? Alhamdulillah.. Kau baik sekali, sahabatku. Namun tentunya aku ingin melihatnya lebih dulu, kalau cocok barulah kita bicarakan soal harga”.

Kemudian mereka bersama-sama menuju ke tempat lahan Abdurrahman yang akan dijual.
“Abdullah.. Inilah lahan yang aku maksud”
“Wah! Lahan ini bagus sekali untuk pertanian. Apakah kau akan menjualnya semua?”.
“Aku akan jual semua untukmu, Abdullah”
“Baiklah, kalau begitu aku akan bayar sesuai dengan harga yang kau minta”

Abdullah pulang dengan hati gembira karena telah mendapatkan lahan pertanian yang baru. Sesampai di rumah ia pun bercerita kepada Siti, anak perempuannya, bahwa ia baru saja membeli lahan yang bagus dari sahabatnya.
“Anakku.. Ayo kita pergi ke kota untuk mencari bibit tanaman dan beberapa alat pertanian. Sebagian alat-alat pertanian kita sudah waktunya diganti yang baru”.
“Baik ayah.. Aku bersiap-siap dulu”

Keesokan harinya mulailah Abdullah dan Siti menggarap lahan yang baru itu. Mereka bekerja keras tak kenal lelah. Abdullah terus mencangkul tanah dari ujung batas lahan sebelah barat sampai ujung batas sebelah timur. Sementara Siti membantu mencabuti rumput dan menyiapkan makanan untuk ayahnya.

Pada saat Abdullah asyik mengayunkan cangkulnya, tiba-tiba TING!! Terdengar suara nyaring dari ujung cangkulnya. Ia coba sekali lagi mengayunkan cangkulnya, dan.. TING!!, kembali cangkulnya menatap sebuah benda keras.
“Hai! Siti! Coba kemari.. Ayah menemukan sesuatu!”
Siti datang menghampiri ayahnya.
“Ayah! Ayo kita lihat. Benda apa yang ada di bawah sana”
Mereka bersama-sama menggali tanah. Dan.. Betapa kaget mereka demi melihat apa yang mereka temukan.
“Hahh?! Bokor emas!!” teriak mereka serentak.
Mereka menemukan sebuah bokor emas sebesar buah kelapa dengan cahaya berkilauan.

Siti memungut benda itu dan membersihkannya dari tanah yang masih melekat.
“Waah… Indah sekali Ayah. Pasti harganya sangat mahal! Kita beruntung, Ayah!”
“Tidak! Tidak Anakku! Benda itu bukan milik kita. Kita tidak berhak memilikinya. Ayah hanya membeli lahan ini, bukan isinya. Ayah harus mengembalikan benda ini kepada pemiliknya, Abdurrahman sahabat Ayah”

Abdullah pun bergegas pergi ke rumah sahabatnya dengan membawa bokor emas yang baru saja ia temukan. Sesampai di rumah Abdurrahman..
“Abdurrahman sahabatku, aku temukan benda ini di dalam lahan yang aku beli darimu. Aku tidak berhak memilikinya. Karena aku membayarmu hanya untuk sebidang lahan dan bukan isinya”
“Maaf Abdullah, aku tidak bisa menerima ini. Karena aku menjual lahan itu, tentu saja beserta isinya, jadi itu jelas bukan milikku. Tetapi milikmu”.
“Aku juga tidak bisa menerima ini, Abdurrahman. Aku takut kepada Allah jika mengambil sesuatu yang bukan hakku..”
“Aku pun demikian, Abdullah. Celakalah diriku jika memiliki sesuatu yang bukan hakku”

Mereka bingung harus bagaimana. Sesaat mereka terdiam, lalu salah satu diantara mereka mengusulkan,
“Bagaimana kalau persoalan ini kita laporkan kepada pak Kyai? Agar beliau yang memutuskan semuanya. Dan… Apapun keputusan beliau kita harus menerimanya”
Keduanya sepakat dan sama-sama berangkat menuju rumah pak Kyai.

Sesampai di rumah pak Kyai kedua sahabat itu menyampaikan permasalahan mereka. Pak Kyai berpikir sejenak, lalu mengajukan pertanyaan kepada mereka.
“Abdurrahman… Apakah kau mempunyai seorang anak?”
“Iya pak Kyai. Saya punya seorang anak laki-laki”.
“Hmm… Baik. Apakah anakmu itu sudah cukup dewasa untuk menikah?
“Sudah pak Kyai. Anak saya berumur 26 tahun”.
“Bagus”

“Tuan Abdullah.. Apakah kau mempunyai seorang anak?”
“Iya pak Kyai. Siti adalah anak perempuan saya satu-satunya”
“Berapa usia anakmu?”
“Emm.. Bulan depan, 21 tahun pak Kyai”
“Baiklah… Abdurrahman dan Abdullah.. Tanyakan kepada anak kalian masing-masing, apakah mereka mau dijodohkan. Jika mereka mau, juallah bokor emas itu. Lalu uang hasil penjualannya kalian gunakan untuk membiayai pesta pernikahan anak-anak kalian. Bagaimana?”.

Abdurrahman dan Abdullah saling pandang dengan wajah berseri-seri. Lalu keduanya menganggukkan kepala. Keputusan pak Kyai telah membuat mereka bernafas lega.
“Alhamdulillah.. ini adalah keputusan yang sangat adil”
“Iya.. Kita telah mendapatkan jalan keluar atas permasalahan kita”
“Abdurrahman sahabatku.. Kita benar-benar akan menjadi saudara..!”
“Abdullah.. Kau akan menjadi mertua anakku! Hahaha…!
Kedua sahabat karib itu pulang dari rumah pak Kyai dengan perasaan suka cita. Namun tiba-tiba keduanya terdiam. Ada sesuatu yang mereka lupakan…
“Abdurrahman.. Kenapa kita terlalu bergembira..? Kau kan belum bertanya kepada anakmu, apakah dia mau menikah dengan anakku?”
“Benar Abdullah.. Jangan-jangan anakmu juga tidak mau menikah dengan anakku!”
Mereka kembali terdiam. Pikiran mereka berkecamuk. Mereka kuatir anak-anak mereka menolak dijodohkan. Kalau sampai itu terjadi berarti persoalan bokor emas itu akan muncul kembali. Akhirnya mereka sepakat untuk mengumpulkan anak-anak mereka dan menyampaikan maksud mereka sesuai dengan petunjuk dan nasehat pak Kyai.

Keesokan harinya Abdurrahman mengajak Naufal anaknya berkunjung ke rumah Abdullah. Sementara Abdullah dan Siti sudah menunggu kedatangan mereka. Dengan sangat hati-hati mereka menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan mereka hari itu. Lalu diakhir kalimat mereka, mereka bertanya kepada anak-anaknya..
“Bagaimana anakku? Apakah kalian mau dijodohkan?”
Sejenak Naufal dan Siti saling memandang. Sementara ayah mereka menunggu jawaban dengan hati berdebar. Akhirnya dengan serempak Naufal dan Siti memberikan jawaban yang mengejutkan.
“Kami memang sudah lama saling mencintai. Tetapi kami takut untuk berterus terang kepada Ayah!”
Mengejutkan sekaligus melegakan hati Abdullah dan Abdurrahman. Mereka tidak menyadari bahwa kebiasaan mengajak anak-anak mereka saling berkunjung, rupanya telah menumbuhkan benih cinta diantara anak-anak mereka.

Pesta pernikahan Naufal dan Siti pun dilaksanakan dengan sangat meriah dengan biaya dari hasil penjualan bokor emas. Sebenarnya, bukanlah nilai bokor emas itu yang membuat mereka bahagia, akan tetapi kejujuran dan ketulusan merekalah yang menjadikan bokor emas itu membawa berkah untuk mereka dan kedua anaknya/***

[Ust.H. Dave Ariant Yusuf]
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.