more information…

m : mediacare@yahoogroups.com 23 Juni 2008 • 9:00PM -0400

[mediacare] LDII – Re: Islam Agama Damai
by Mahar_FGD

REPLY TO AUTHOR
REPLY TO GROUP

Dalam pencarian sumber riset di indonesia timur untuk sebuah kantor berita
luar negeri , saya mulai pada suatu hari Jumat di Kota Makasar, karena saya
saat itu [2002] baru mendarati makasar atas penerbangan dari Jakarta dan jam
menunjukkan pukul 11.45, saya pun memanggil becak minta diantar ke mesjid
terdekat. rupanya sang pengayuh becak juga sedang menuju masjid, “wah mas
saya mau jumatan” katanya menolak saya sebagai penumpang, “tapi saya juga
mau jumatan, saya sdg mencari mesjid terdekat, kalau begitu kita ke masjid
saja bersama-sama”. Tak kuasa menolak, saya pun diangkut abang becak asal
pasuruan yang beristrikan bugis itu.
di perjalanan, sambil mengayuh si abang becak memberitahu saya sesuatu,
“saya sholat di masjid tempat pengajian saya mas, jadi agak jauh.” setelah
saya bilang bahwa saya ikut saja, saya kemali bertanya saat melintasi sebuah
mesjid besar di persimpangan menuju jalan raya cerekang. “Kenapa tidak di
sini saja pak, sholat jumatnya?” si Abang becak menjawab, “yang disini
khotbahnya pakai bahasa Indonesia, mas. di tempat kami khotbah jadi satu
sama sholat, jadi pakai bahasa arab dan tidak boleh seperti ceramah biasa.”

Benar saja, mesjidnya kira-kira 5 menit dari mesjid yang tadi sempat kami
lintasi. Kira-kira berukuran 10 x 25 meter persegi, dua lantai, nampak tanpa
ada kubah khas masyarakat hindu dan sikh di India, disekelilingnya berderet
rumah-rumah petak berlantai dua yang merupakan tempat tinggal mubaligh dan
takmir mesjid, serta dua rumah singgah untuk tamu dan sebuah dapur terbuka.

lagi, abang becak benar, khutbah jumatnya pakai bahasa arab, untung saya
sempat ber’inkubasi’ di pesantren, jadi dengan isi khutbah cukup mengerti.
luar biasa, pesan perdamaian dari Alqur’an dan hadits2 nabi dipaparkan
secara gamblang, sayangnya, yang tahu hanya mereka yang mengaji di masjlis
taklim itu atau ornag-orang yang belajar agama Islam dengan baik. berbeda,
karena biasanya saya lihat khatib dan imam adalah orang berbeda, ini
benar-benar seperti di jazirah arab, khatib sekaligus imam.

Usai sholat jumat saya diperkenalkan oleh abang becak ke bapak kiyai yang
menjadi khatib dan imam tadi, umurnya sekitar 32 tahun namun kharismatik
dengan tsurban dan jenggot tercukur rapi. “Pak kiyai, mas ini dari Malaysia
sedang bertugas disini, baru datang, tadi ikut becak saya.” dan dengan penuh
keramahan saya disambut dengan baik, lalu dipanggillah seorang remaja
ashabul masjid [penunggu mesjid] yang kemudian saya tahu masih kuliah di
sebuah perguruan tinggi negeri, UNM. Pada remaja ini saya dititipkan untuk
diantar ke rumah singgah yang dinamai Rumah Sabilillah. Selama tiga hari
tiga malam, hidup saya dalam jaminan di rumah sabilillah, bahkan diserahi
kunci motor untuk dipakai melancarkan pekerjaan hanya dengan pesan,
“hati-hati, semoga barokah.”

Petangnya ketika kembali dari hunting, habis magrib ada kesibukan kecil,
tikar dan karpet digelar penuh, lantas meja-meja kecil untuk membaca al
qur’an di bariskan, selembar sitrah [kain kelambu] setinggi dada orang
dewasa dipasang menyekat membagi dua ruangan masjid. ternyata ada pengajian
rutin yang disebut pengajian kelompok.

Acara dalam pengajian tersebut secara berurutan adalah memmbaca alquran oleh
seorang muballigh dan disimak oleh seluruh hadirin yang mana-masing-masing
juga memegang alqur’an, kira-kira 10 menit. Dilanjutkan kemudian selama
kira-kira 20 menit adalah sesi pemaknaan atau tafsir. begitu selai langsung
dilanjutkan dengan kajian hadits [kalau tidak salah saat itu haditsnya ibni
Majah], kira-kira 30 menit dengan pengajar muballigh lain lagi, masih muda
kira-kira umur 18 tahun tapi luar biasa, cemerlang.

Selesai hadits, adalah sesi nasihat, tidak hanya kiyai yang nasihat, tapi
bisa siapa saja yag ditunjuk oleh kiyai [ini pembelajaran yg bagus untuk
menjadi pembiacar publik]. “Deg!” rupanya si abang becak tadi yang kali ini
dapat giliran memberikan tausyiah.

si abang becak mulai berpidato setelah salam dan memberikan kata pengantar,
“…kita sebagai warga negara Indonesia dinasihati untuk selalu tunduk dan
patuh pada pemerintah yang sah berdasarkan pancasila dan UUD 1945….dst.
yang saya lihat ada nuansa nasionalisme disini. kemudian disambung panjang
lebar dengan berbagai nasihat perdamaian dan pembinaan kerukunan dengan
dalil-dalil sangat pas. [saya bertanya-tanya, kalau tukang becaknya saja
seperti ini bagaimana dengan kiyainya ya?]

yang tak kalah menariknya buat saya, sepanjang pengajian ini saya melihat
sebentar-sebentar ada yang melempar uang sodaqah ke depan dimana agak
lapang, ada juga yang ketika berdiri pulang meninggalkan uang ditempat
duduknya, dan nggak ada yang iseng ngantongin! padahal mulai dari pecahan
1000an sampai 50 ribuan ada lho. abang becak bilang, ini untuk mendanai
kegiatan rutin berupa pengajian yang seminggu berlangsung 4 kali. jadi tidak
ada iuran wajib yang memberatkan, tapi siapa saja ingin sodaqah silahkan.

Dan mesjid yang cukup megah untuk ukuran mesjid2 disekitar itu, ternyata
juga dibiayai bersama-sama para jemaat pengajian. ‘kita tidak boleh mengemis
di pinggir jalan mas. malah kalau disii tidak ada lapangan beramal solih,
mereka pada mencari dimana sedang ada pembangunan masjid, ikut menyumbang,
atau membangun jalan kampung…ya pokoknya hidup itu untuk ibadah mas.’

Saya terngiang nasihat abang becak, “barang siapa membangun mesjid di dunia
maka Tuhan membangunkan sebuah gedung megah di akhirat.”

lantas pada hari keempat, dengan penuh kesan saya pun pamit melanjutkan
ekspedisi ke papua. tak dinyana, pak kiyai masih juga tidak mau melepas
saya, “bawa alamat dan nomer telepon ini, setelah sampai bandara ditelpon
saja biar dijemput,” dan sebagaimana pesannya, nomer HP yang diberikan saya
panggil dari bandara Sentani, sebuah salam menyapa dari seberang. “Oh, mas
mahar ya, tadi saya dapat kabar dari makasar dan sekarang saya sudah dekat
dengan bandara, mas tunggu saja disitu, lima menit lagi saya sampai.”

Muda, kira-kira berumur 30 tahun, seorang supervisor di perusahaan consumer
good, asal medan. “jangan sungkan, anggap saja dikampung sediri, kita semua
keluarga, kalau butuh kemana-mana saya antar atau kalau mau pakai kendaraan
sebaiknya jangan sendiri, selain bensin disini langka dan mahal, tradisi
disini berbeda, nabrak ayam saja belum cukup motornya buat nebus.”

Rupanya saya dibawa ke Bucend II, sebuah komplek cukup wah dengan masjid
ditengah2nya membuat saya serasa di kampus IIU. masjidnya penuh dengan
kitab-kitab di rak yang tertata rapi. dan saya baru tahu dari sebuah plang
yang ada didepan komplek [yang di makasar tidak ada papan nama]. ternyata
saya dijamu oleh warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia [LDII] yang selama ini
dianggap sesat, tapi saya yang tidak dikenal pun dijamu seperti keluarga,
katanya mereka wajib menjamu saya karena saya adalah ibnusabil [bukan
maksudnya aak jalanan, tapi seorang yang dalam perjalanan].

Enam tahun berlalu, dan saya sekarang di Jakarta, ada khabar dari
teman-teman di wilayah persekutuan, serawak dan terakhir sebuah SMS dari
pudu, kalau pembelajaran agama islam di malaysia, banyak yang sudah memakai
kurikulum LDII. padahal setahu saya, awal 2000an, sebuah masjid di distrik
Banting [ kalau tidak salah dekat dengan tanah genting] dibakar oleh
orang-orang Indonesia yang tak jarang merupakan pendatang haram, dan mereka
terprovokasi oleh penerbitan buku ormas-ormas islam yang tidak suka dengan
LDII.

Saya jadi berpikir, kenapa dalam sekian lama LDII dibakar dan serang
masjidnya tapi kok tetap bertahan bahkan semakin berkembang ke seluruh
dunia? Sdr. Syaiful yang sampai sekarang jadi kontak saya di Papua,
mengatakan itulah kebenaran, kalau tidak ada gangguan justru diragukan
apakah yang dijalankan sudah benar. terus kalau diserang kok membalas,
jangan-jangan malah lebih buruk dari yang menyerang, “kita doakan saja
semoga mendapat petunjuk agar selamat dunia dan akhirat,” lanjutnya, kalau
ustad jalan ditengah gerombolan pemabuk kok tidak diganggu, jangan-jangan
karena ustadnya juga sedang mabok…

kadang, sikap yang dikembangkan ini menginspirasi saya…begitulah.

terakhir saya baca di internet, ada paradigma baru sedang dikembangkan dalam
dua tahun terakhir oleh LDII, ada yang bisa bantu menjelaskan tentang
paradigma baru itu? konon diantaranya tentang perdamaian dsb…please help
me, netters.